Pengukuhan Polresta Sumenep Diwarnai Kekecewaan Wartawan yang Sulit Meliput Kapolda Jawa Timur.BERITATA, Sumenep – Misteri di balik sulitnya akses peliputan wartawan dalam agenda kunjungan Kapolda Jawa Timur di Sumenep akhirnya terjawab. Ternyata, pembatasan ketat hingga larangan masuk bagi awak media bukan berasal dari protokol Polres Sumenep, melainkan murni keputusan sepihak dari pihak Polda Jatim.
Kekecewaan ini terjadi saat Kapolda Jatim, Irjen Pol. Drs. Nanang Avianto, M.Si., datang ke Sumenep pada Rabu (15/07/2026) untuk meresmikan pengukuhan Polresta Sumenep sekaligus menghadiri serah terima jabatan (Sertijab) Kapolresta.
Berdasarkan bukti rundown acara resmi yang disusun oleh Polres Sumenep, agenda wawancara cegat (doorstop) sebenarnya sudah dijadwalkan secara matang untuk memfasilitasi para jurnalis. Namun secara mendadak, pihak Polda Jatim membatalkan agenda tersebut secara sepihak dan menyatakan tidak berkenan menemui wartawan Sumenep.
Fakta di lapangan ini meluruskan simpang siur yang sempat menyudutkan humas Polres setempat. Plt. Kasi Humas Polres Sumenep, Ipda Ardan, sebelumnya memang menyatakan bahwa dari pihak tuan rumah sudah menyiapkan ruang bagi media.
“Sebetulnya dari pihak Polres Sumenep sudah menyediakan tempat doorstop untuk teman-teman media,” jelas Ipda Ardan.
Namun, persiapan matang dari Polres Sumenep tersebut menjadi sia-sia ketika intervensi dari tim protokol Polda Jatim masuk dan menutup pintu akses bagi jurnalis lokal. Alhasil, puluhan wartawan yang sudah bersiap sejak pagi terpaksa gigit jari di luar area acara.
Aksi pembatalan sepihak dari Polda Jatim ini memperpanjang catatan kelam hubungan pers dan kepolisian di Sumenep. Kejadian serupa juga pernah terjadi pada 14 April 2026 lalu, saat rilis kasus temuan kokain seberat 27,83 kilogram mendadak dibatalkan secara misterius setelah puluhan jurnalis menunggu berjam-jam di Mapolres.
Kronologi Fakta di Lapangan:
Ada Apa dengan Polda Jatim?
Hingga berita ini dinaikkan, belum ada penjelasan logis dari pihak Polda Jatim mengenai alasan mengapa mereka sangat alergi dan enggan menemui awak media di Sumenep.
Tindakan menutup pintu komunikasi ini dinilai mencederai semangat keterbukaan informasi publik. Sebagai mitra strategis, jurnalis di Sumenep berharap pihak Polda Jatim bisa lebih profesional dan menghargai kerja wartawan di lapangan, bukan malah memberikan pembatalan sepihak tanpa alasan yang jelas.