Hukrim

Kotak Amal Masjid Grand Symphony Dicuri: Sistem Keamanan Dipertanyakan, Kesadaran Kolektif Dipertaruhkan

60
×

Kotak Amal Masjid Grand Symphony Dicuri: Sistem Keamanan Dipertanyakan, Kesadaran Kolektif Dipertaruhkan

Sebarkan artikel ini
c9a0cffc d112 4015 af60 d27123f45545
Kotak Amal Dicuri, CCTV Tak Mampu Mencegah: Alarm Keras Keamanan Masjid Perumahan Grand Symphony Paberasan.

SUMENEP, beritata.com — Pencurian kotak amal di Masjid Perumahan Grand Symphony, Desa Paberasan, bukan sekadar tindak kriminal biasa. Peristiwa ini menjadi cermin telanjang rapuhnya sistem pengamanan tempat ibadah sekaligus memudarnya kewaspadaan kolektif masyarakat.

Aksi yang terjadi pada Minggu (22/3/2026) itu berlangsung nyaris tanpa hambatan. Pelaku dengan leluasa masuk ke area masjid, mengambil kotak amal, lalu keluar dengan membungkusnya menggunakan terpal hitam tanpa ada satu pun upaya pencegahan di lokasi.

Ironisnya, semua terekam jelas melalui CCTV. Namun, seperti banyak kasus serupa, rekaman hanya menjadi “saksi bisu” yang bekerja setelah kejadian, bukan alat pencegah yang efektif.

Selama 12 hari, pelaku bebas tanpa jejak yang terlihat oleh publik. Baru kemudian, berkat kerja penyelidikan intensif Polres Sumenep, tersangka berinisial H (52) akhirnya berhasil diamankan.

Penangkapan ini patut diapresiasi. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: mengapa kejahatan bisa terjadi begitu mudah, dan baru terungkap setelah hampir dua pekan?

Kapolres Anang Hardiyanto menegaskan komitmen pemberantasan kriminalitas, termasuk di tempat ibadah. Tetapi realitas di lapangan menunjukkan bahwa pencegahan masih jauh dari optimal.

Masjid yang seharusnya menjadi ruang sakral dan aman, justru kehilangan fungsi perlindungannya. Tidak ada penjagaan aktif, tidak ada kontrol akses, dan tidak ada respon cepat saat indikasi kejahatan terjadi.

Lebih dari itu, kasus ini juga menyentuh aspek yang lebih dalam: krisis kepercayaan dan menurunnya rasa tanggung jawab sosial. Kotak amal bukan sekadar benda, melainkan simbol kepedulian umat. Ketika itu pun menjadi sasaran, maka yang hilang bukan hanya uang tetapi juga nilai.

Situasi ini menegaskan bahwa keamanan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan pengelola tempat ibadah, kejahatan akan selalu menemukan celah.

Pengamat sosial menilai, kejadian ini harus menjadi titik balik untuk melakukan evaluasi menyeluruh, di antaranya:

  • Mengubah CCTV dari sekadar alat rekam menjadi sistem pengawasan aktif
  • Membangun sistem keamanan berbasis komunitas (community watch)
  • Menumbuhkan kembali budaya peduli dan tanggung jawab kolektif

Kasus ini adalah peringatan keras: tempat ibadah tidak otomatis aman hanya karena nilai sakralnya. Tanpa sistem dan kesadaran, bahkan ruang suci pun bisa menjadi target empuk kejahatan.

Dan ketika itu terjadi, yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan tetapi juga kepercayaan umat itu sendiri.