Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, KH. Abdul Wasid, M.Pd.I : Rumah Adalah Madrasah Pertama Pencetak Hafiz dan Hafizah Al-Qur’an.BERITATA, Sumenep – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan zaman yang semakin kompleks, pola asuh orang tua di rumah tetap menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Pendidikan formal atau madrasah tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya sinergi dan komitmen nyata dari lingkungan keluarga. Hal tersebut menjadi benang merah dalam arahan mendalam yang disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, KH. Abdul Wasid, M.Pd.I., dalam Wisuda Khatmul Qur’an dan Imtihan yang berlangsung Aula Al-Ikhlas Kemenag Kabupaten Sumenep, Rabu (17/06/2026).
Dalam kesempatan tersebut, KH. Abdul Wasid mengupas tuntas mengenai filosofi fitrah seorang anak. Merujuk pada sebuah hadis yang sangat masyhur, beliau mengingatkan bahwa setiap anak terlahir ke dunia bagaikan kertas putih yang suci. Lingkungan terdekat, terutama orang tua, memiliki pena utama untuk mewarnai dan menentukan arah masa depan serta keyakinan anak tersebut.
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Tinggal bagaimana kedua orang tuanya; apakah akan menjadikannya Nasrani, Yahudi, atau Majusi. Hadis ini menekankan betapa krusialnya peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai tauhid sejak dini serta membiasakan kebaikan di dalam rumah,” tutur KH. Abdul Wasid di hadapan ratusan wali murid yang hadir.
Beliau menegaskan bahwa impian melahirkan generasi yang saleh, saleha, dan mencintai Al-Qur’an tidak akan pernah terwujud jika orang tua melimpahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada lembaga sekolah semata. Menurutnya, madrasah atau sekolah hanyalah fasilitator, sementara episentrum pendidikan karakter yang sesungguhnya berada di meja makan dan ruang keluarga rumah masing-masing.
Lebih lanjut, Kepala Kemenag Sumenep mengajak para orang tua untuk merefleksikan kembali bentuk dukungan yang mereka berikan kepada anak-anak. Di era sekarang, banyak orang tua yang merasa kewajibannya sudah selesai ketika telah memfasilitasi anak secara finansial atau membayar biaya pendidikan. Padahal, kebutuhan psikologis anak akan figur teladan jauh lebih tinggi.
“Dukungan dan ikhtiar bapak-ibu sekalian tidak cukup hanya berupa support finansial. Orang tua harus bisa menjadi Uswatun Hasanah (teladan yang baik) di rumah. Minimal, istiqomah membaca Al-Qur’an setiap hari bersama anak, meskipun hanya satu atau dua halaman. Jangan lupa untuk senantiasa mendo’akan mereka,” tambah beliau.
Pesan edukatif ini disampaikan di acara Khatmul Qur’an dan Imtihan Metode Ummi Angkatan ke-5 yang digelar oleh MIN 1 Sumenep. Momentum kelulusan uji publik kemampuan membaca Al-Qur’an, Tahfidz, dan Terjemahan bagi para siswa ini menjadi potret nyata bagaimana kolaborasi antara program madrasah dan perhatian orang tua dapat menghasilkan capaian yang positif. KH. Abdul Wasid pun berharap, keberhasilan akademis dan spiritual yang tampak dalam momentum ini dapat menginspirasi lembaga-lembaga pendidikan keagamaan lainnya di seluruh Kabupaten Sumenep untuk terus menjaga mutu dan kualitas pendidikan mereka.

